Candi Borobudur terletak di kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Posisinya kurang lebih 42 KM di sebelah barat laut Yogyakarta, 100 km sebelah barat daya Semarang dan 86 km di sebelah barat Surakarta. Candi ini merupakan yang terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja dan merupakan World Wonder Heritages. Ada beberapa versi mengenai asal usul nama candi ini. Versi pertama
mengatakan bahwa nama Borobudur berasal dari bahasa Sanskerta yaitu
“bara” yang berarti “kompleks candi atau biara” dan “beduhur” yang
berarti “tinggi/di atas”.
Pendapat Poerbotjoroko ini dikuatkan oleh Prof. Dr. W.F. Stutterheim
yang berpendapat bahwa Bodorbudur berarti “biara di atas sebuah
bukit”. Sedangkan, versi lainnya lagi yang dikemukakan oleh Prof. J.G.
de Casparis berdasarkan prasati Karang Tengah, menyebutkan bahwa
Borobudur berasal dari kata “bhumisambharabudhara” yang berarti “tempat
pemujaan bagi arwah nenek moyang”.
Pembangunan
Meski tidak ada bukti tertulis yang menjelaskan siapa yang mendirikan dan kapan waktu pembanguan Candi Borobudur, namun waktu pembangunannya dapat diperkirakan sekitar tahun 800 Masehi. Perkiraan ini berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis di kaki tertutup Karmawibhangga dengan jenis aksara yang lazim digunakan pada prasasti kerajaan abad ke-8 dan ke-9. Kurun waktu ini sesuai dengan kurun antara 760 dan 830 M, masa puncak kejayaan wangsa Syailindra di Jawa Tengah. Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825.
Dibutuhkan tak kurang dari 2 juta balok batu andesit atau setara dengan 50.000m persegi untuk membangun Candi Borobudur ini. Berat keseluruhan candi mencapai 3,5 juta ton. Seperti umumnya bangunan candi, Bororbudur memiliki 3 bagian bangunan, yaitu kaki, badan dan atas. Bangunan kaki disebut Kamadhatu, yang menceritakan tentang kesadaran yang dipenuhi dengan hawa nafsu dan sifat-sifat kebinatangan. Kemudian Ruphadatu, yang bermakna sebuah tingkatan kesadaran manusia yang masih terikat hawa nafsu, materi dan bentuk. Sedangkan Aruphadatu yang tak lagi terikat hawa nafsu, materi dan bentuk digambarkan dalam bentuk stupa induk yang kosong. Hal ini hanya dapat dicapai dengan keinginan dan kekosongan.
Alamat: Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Phone: +62 293 788 266 Fax:
fax.: +62 293 788 132
Koordinat GPS: S7°36'28.3" E110°12'13.5"
Phone: +62 293 788 266 Fax:
fax.: +62 293 788 132
Koordinat GPS: S7°36'28.3" E110°12'13.5"
Kini Mataram Islam masih meninggalkan jejaknya, diataranya

Benteng Vredebrug, meski fungsi pertama kali bangunan ini untuk kepentingan kumpeni, tapi yang membangun benteng ini adalah Sri Sultan Hamengku Buwana I, atas permintaan pihak kumpeni, Nicolas Harting. Bangunan didirikan pada tahun 1760, mulanya hanya sebuah benteng yang berbentuk bujur sangkar dengan tiap
sudutnya memiliki tempat penjagaan disebut seleka atau Bastion. Keempat sudut tersebut di beri nama untuk masing-masing arahnya. Untuk
Bastion yang berada di sudut barat laut dinamai Jayawisesa, Sudut timur
laut diberi nama Jayapurusa, Sudut bara daya diberi nama
Jayaprakosaningprang dan sudut tenggara diberi nama Jayaprayitna.
Vredeburg kini sudah berumur ratusan tahun, dan memiliki nilai history tinggi. Meski sudah tua, namun kondisinya cukup terjaga dengan baik dan masih terlihat kemegahannya. Fungsi pada ruangan-ruangannya adalah untuk menyimpan ratusan diorama yang menggambarkan tentang perjuangan bangsa Indonesia
hingga masa orde baru serta beberapa benda bersejarah, foto-foto dan
lukisan perjuangan nasional.
Layaknya sebuah istana besar, Keraton Yogyakarta memiliki Taman Sari. Bisa digambarkan bahwa Taman Sari adalah kebun raya. Pada awal pembangunannya, luas Taman Sari sekitar sepuluh hektare, dan terdapat sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan
gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong
bawah air. Taman Sari secara efektif digunakan antara tahun 1765-1812. "The Fragrant Garden" pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai
tenggara kompleks Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari
yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton
saja.
Bangunan di sisi paling utara merupakan tempat istirahat dan berganti
pakaian bagi para puteri dan istri (selir). Di sebelah selatannya
terdapat sebuah kolam yang disebut dengan nama "Umbul Muncar". Sebuah
jalan mirip dermaga menjadi batas antara kolam ini dengan sebuah kolam
di selatannya yang disebut dengan "Blumbang Kuras". Di selatan Blumbang
Kuras terdapat bangunan dengan menara di bagian tengahnya. Bangunan
sayap barat merupakan tempat berganti pakaian dan sayap timur untuk
istirahat Sultan. Menara di bagian tengah konon digunakan Sultan untuk
melihat istri dan puterinya yang sedang mandi kemudian yang tubuh
telanjangnya paling mengesankan sultan akan di panggil ke menara. Di
selatan bangunan tersebut terdapat sebuah kolam yang disebut dengan
"Umbul Binangun", sebuah kolam pemandian yang dikhususkan untuk Sultan
dan Permaisurinya saja. Pada zamannya, selain Sultan, hanyalah para
perempuan yang diizinkan untuk masuk ke kompleks ini. Ini di mungkinkan
karena semua perempuan (permaisuri, istri ( selir ) dan para putri
sultan) yang masuk ke dalam taman sari ini harus lepas baju (telanjang),
sehingga selain perempuan di larang keras oleh sultan untuk masuk ke
Taman Sari.
Keraton Ngayogjokarto Hadiningrat atau yang lebih populer disebut Keraton Yogyakarta, tidak hanya menjadi pusat budaya, tapi juga menjadi meseum hidup kebuadayaan jawa. Istana masih berfungsi sebagai tempat tinggal raja dan museum benda-benda pusaka, diantaranya milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.
Ada banyak hal yang bisa disaksikan di Kraton Yogyakarta, mulai
dari aktivitas abdi dalem yang sedang melakukan tugasnya atau melihat
koleksi barang-barang Keraton. Koleksi yang disimpan dalam kotak kaca
yang tersebar di berbagai ruangan tersebut mulai dari keramik dan barang
pecah belah, senjata, foto, miniatur dan replika, hingga aneka jenis
batik beserta deorama proses pembuatannya. Selain itu, wisatawan juga
bisa menikmati pertunjukan seni dengan jadwal berbeda-beda setiap
harinya. Pertunjukan tersebut mulai dari wayang orang, macapat, wayang
golek, wayang kulit, dan tari-tarian. Untuk menikmati pertunjukkan seni
wisatawan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan. Jika datang pada hari
selasa wage, Anda bisa menyaksikan lomba jemparingan atau panahan gaya
Mataraman di Kemandhungan Kidul. Jemparingan ini dilaksanakan dalam
rangka tinggalan dalem Sri Sultan HB X. Keunikan dari jemparingan ini
adalah setiap peserta wajib mengenakan busana tradisional Jawa dan
memanah dengan posisi duduk. Masih ada berbagai macam pertujukan yang diadakan setiap hari.